Ikhtisar Klasifikasi Batuan
Muhammad Irvan
| 29-05-2024
· Information Team
Ada banyak jenis batuan di bumi, namun secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama.
Yaitu: batuan beku, batuan metamorf, dan batuan sedimen.
Mari kita bahas asal muasal beberapa batuan umum dalam setiap kategori.
Pertama, penting untuk memperjelas beberapa konsep. Litosfer dan kerak bumi tidaklah sama. Litosfer meliputi mantel paling atas selain kerak bumi, sedangkan kerak bumi terbagi lagi menjadi kerak samudera dan kerak benua.
Ketika kita berbicara tentang “lempeng”, yang kita maksud adalah litosfer. Jika sebuah lempeng sebagian besar terdiri dari kerak samudera, maka itu adalah lempeng samudera, jika terdapat kerak benua yang signifikan di atasnya, maka itu adalah lempeng benua.
Kedua, batuan dan mineral berbeda. Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral, sedangkan mineral adalah zat murni yang terbentuk secara alami.
Ketiga, mantel tidak cair tetapi mengalami konveksi lambat.
Sekarang mari kita bahas pembentukan batuan. Awalnya, Bumi dan planet-planet lain di tata surya terbentuk secara bersamaan. Bumi bermula sebagai entitas kacau yang strukturnya mirip dengan kondrit dan tidak memiliki lapisan inti, mantel, dan kerak bumi.
Sekitar 50 juta tahun setelah Bumi terbentuk, sebuah planet seukuran Mars bernama Theia bertabrakan dengan Bumi, menghasilkan energi yang sangat besar yang hampir melelehkan planet tersebut (sebagian material dikeluarkan untuk membentuk bulan). Selama proses ini, Bumi mulai berdiferensiasi. Bahan yang lebih berat seperti besi dan nikel tenggelam ke arah tengah, membentuk inti yang kaya akan besi.
Unsur-unsur ringan seperti magnesium, aluminium, silikon, karbon, oksigen, kalsium, dan natrium tetap berada di luar inti, membentuk mantel primitif.
Ketika material yang lebih berat tenggelam, energi potensial gravitasi dilepaskan, memungkinkan mantel menyerap energi, menjaga suhu, dan mengalami konveksi, yang berkontribusi pada pembentukan medan geomagnetik.
Selanjutnya, Bumi memasuki fase pendinginan, dan panas terpancar ke luar angkasa. Lapisan luar mendingin lebih cepat, menyebabkan beberapa mineral mengeras (misalnya garnet, spinel, olivin, piroksen) di bawah titik lelehnya.
Mineral-mineral ini membentuk kristal padat di mantel atas, menghasilkan batuan seperti lherzolit, peridotit, dunit, piroksenit, harzburgit, dan websterit, yang merupakan litosfer awal. Ketebalan batuan ini bervariasi, dengan daerah yang lebih lemah menjadi batas lempeng. Selama masa ini, komet membawa air ke Bumi, menyebabkan terbentuknya lautan di atas bebatuan.
Dari batuan awal tersebut kemudian terbentuklah berbagai jenis batuan. Aktivitas vulkanik menciptakan berbagai batuan beku (termasuk batuan ultrabasa tersebut).
Batuan metamorf biasanya terbentuk pada kondisi suhu dan tekanan tinggi. Selain zona subduksi, lingkungan lain terjadinya pembentukan batuan metamorf adalah di daerah pegunungan, terutama tempat bertabrakannya dua lempeng benua, seperti Himalaya dan Pegunungan Alpen. Batuan metamorf yang terbentuk secara besar-besaran di wilayah tersebut disebut batuan metamorf regional dan selanjutnya diklasifikasikan ke dalam berbagai fasies berdasarkan kondisi suhu dan tekanan pada saat pembentukannya.
Kategori batuan utama lainnya adalah batuan sedimen. Berbeda dengan batuan metamorf, yang sering terbentuk di zona subduksi yang aktif secara tektonik, batuan sedimen umumnya terbentuk di laut dangkal dan dasar laut landas kontinen yang kurang aktif, serta sebagian besar di permukaan bumi. Batuan beku dan metamorf terkikis secara fisik atau kimia (oleh air, gletser, tumbuhan, angin, pasang surut, dll.) dan diangkut ke tempat lain melalui air atau udara.
Di lingkungan berenergi rendah (dataran, danau, pantai, laut dangkal, kipas aluvial, delta, dll.), pecahan-pecahan ini mengendap. Partikel yang lebih besar mengendap terlebih dahulu, biasanya di dasar lapisan sedimen atau lebih dekat
ke sumbernya. Partikel yang lebih kecil dapat terbawa lebih jauh, misalnya ke laut dalam.
Tiga jenis batuan utama dapat mengalami transformasi timbal balik atau transformasi diri. Misalnya, batuan metamorf dan batuan sedimen dapat tersubduksi ke dalam mantel dan meleleh, dan ketika meletus kembali ke permukaan, menjadi batuan beku.
Batuan beku dan batuan metamorf, melalui erosi, sedimentasi, dan lain-lain, dapat membentuk batuan sedimen. Pada kondisi suhu dan tekanan tinggi, batuan beku dan sedimen juga dapat membentuk batuan metamorf.